Menurut Kantor Berita ABNA, presiden terpilih Iran Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Ibrahim Raisi dalam konferensi persnya yang pertama usai dinyatakan resmi memenangkan pemilihan presiden Iran ke-13 mengatakan kepada wartawan dan perwakilan media dalam dan luar negeri mengatakan, "Kepada pihak-pihak yang selama ini melancarkan permusuhan pada Iran, kami katakan bahwa tekanan maksimum mereka pada rakyat Iran selama ini belum juga mencapai hasil yang mereka harapkan. Mereka harus mempertimbangkan kembali upaya mereka untuk mengerdilkan bangsa Iran, karena bangsa ini telah menunjukkan bahwa mereka memiliki perlawanan terhadap tekanan, mereka harus tahu bahwa kebijakan luar negeri pemerintah Iran tidak memiliki batasan."
Raisi lebih lanjut menekankan, “Kami akan mengupayakan interaksi dengan seluruh dunia dan dengan semua negara di dunia sebagai peluang interaksi yang luas dan seimbang dalam politik luar negeri. Insya Allah dalam setiap negosiasi harus didasarkan pada prinsipi yang menjamin kepentingan nasional."
Dia menambahkan, "Kami tidak akan mengikat situasi ekonomi dan kondisi rakyat dengan negosiasi ini dan kami tidak akan membiarkan negosiasi terkikis dengan cara apa pun, tetapi setiap pertemuan harus disertai dengan hasil."
Presiden terpilih Iran tersebut menyatakan, "Dalam negosiasi apa pun, hasil yang lebih baik harus membawa keuntungan untuk negara besar Iran, dan untuk mencapai sesuatu bagi bangsa Iran, mencabut pembatasan dan sanksi dan memverifikasi kebenaran. Semua itu akan kami capai melalui proses negoisasi dan pendekatan diplomasi."
Menanggapi wartawan yang menanyakan apakah dia siap bertemu dengan Presiden AS setelah sanksi dicabut? Dalam satu kata, dia berkata, tidak. Raisi berkata, "Mengapa Biden tidak memenuhi komitmen pemerintahan AS sebelumnya? Mengapa dia tidak mempertanggungjawabkan tugasnya terhadap kewajiban yang diciptakan? Saran serius saya kepada pemerintah AS adalah untuk segera bertindak sesuai komitmen mereka dan mencabut semua sanksi, dan menunjukkan bahwa mereka jujur dengan mencabut semua sanksi."
"Alasan untuk ini adalah pelanggaran perjanjian Amerika dan kegagalan Eropa untuk memenuhi kewajibannya. Kami mendesak pemerintah AS untuk memenuhi komitmennya terhadap perjanjian ini." Tegas Raisi
Terkait dengan isu Palestina, Ibrahim Raisi berkata, "Rencana kami mengacu pada apa yang telah menjadi opini publik Palestina. Rakyat Palestina adalah pemilik asli tanah Palestina. Mereka memiliki Palestina, dan rezim Zionis harus takut pada pribumi Palestina sebelum merasa takut kepada kita, dan hari ini inisiatif ada di tangan Mujahidin Palestina. Republik Islam selalu mendukung kaum tertindas."
Mengenai masalah Yaman, Raisi berkata: "Yaman harus dikelola oleh Yaman sesegera mungkin. Intervensi Saudi di Yaman dan serangan terhadap rumah-rumah Yaman harus dihentikan. Penghentian segera perang melawan Yaman adalah tuntutan Republik Islam, dan administrasi internal Yaman adalah tanggung jawab Yaman sendiri."
"Saya menyatakan bahwa kami telah mengumumkan hubungan dengan semua negara, terutama negara tetangga, dan prioritas kami adalah menjalin hubungan dengan negara tetangga. Tidak ada halangan bagi Republik Islam Iran untuk membuka kembali kedutaan besar Iran di Arab Saudi, dan tidak ada halangan untuk hubungan kedua negara dan dialog dengan semua negara di kawasan." Tambahnya.
Disebutkan, Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Ibrahim Raisi, dalam pemilihan Presiden Iran yang ke-13 pada Jumat (18/6) memenangkan lebih dari 17 juta dan 926 ribu suara (62% suara) sehingga nanti akan ditetapkan sebagai presiden kedelapan Iran dari pilihan rakyat.
Sebanyak 59.310.307 warga Iran memiliki hak pilih dan 28.933.004 orang telah menggunakan haknya. Dengan demikian, 48,8 persen telah berpartisipasi dalam pemilu.
Sementara kandidat lainnya, Mohsen Rezaei dan Abdolnaser Hemamti masing-masing memperoleh 3.412.712 suara dan 2.427.201 suara.
Amirhossein Ghazizadeh Hashemi pada posisi buncit memenangkan 999.718 suara.